JINAYAH KHAMAR - Fiqih Jinayah

by Hamzah on 01:01 PM, 30-Mar-12

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan rasa syukur yang tiada terhingga kepada Allah SWT. Shalawat dan salam tidak lupa disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berasal dari kumpulan bahan kuliah “Fiqih Jinayah” tentang khamar pada fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru yang semula bahan ini hanya dalam bentuk kata- kata dan sampai terbentuk nya dalam sebuah makalah. Atas saran teman – teman maka di sempurnakan lah makalah ini dalam judul “Jinayah Khamar”.

Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya umat muslim, tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga bagi pihak yang luas. Teguran atas segala kekurangan yang dijumpai dalam buku ini dan sekaligus saran- saran perbaikannya, diterima dengan segala senang hati disertai dengan ucapan terima kasih dan doa semoga menjadi amal baik yang diterima oleh Allah SWT.

Akhirnya kepada Allah SWT jualah segalanya diserahkan, sambil tidak henti- hentinya berusaha dan memohon pertolongan–Nya.

                                                                                              Penulis



BAB I

PENDAHULUAN

 

            Hukum-hukum Allah adalah ketentuan yang diciptakan-Nya untuk mengangkat harkat dan martabat manusia, maka pelanggaran terhadap ketentuan Allah berarti menjatuhkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Di antara bentuk pelanggaran atas ketentuan Allah adalah berbuat zina, berlaku qazaf ( menuduh seseorang berbuat zina ), mengkonsumsi minuman keras, mencuri dan bugah. Beberapa pelanggaran ini di ganjar dengan hukuman yang berat, baik di dunia maupun akhiri.

            Beberapa pelanggaran ini akan diuraikan dalam pembahasan ini. Bagaimana ketentuan Islam tentang perbuatan zina, qazab, konsumsi miras, mencuri. Dasar hukum dilarangnya, apa sanksi bagi pelakunya, dan apa hikmah dilarangannya perbuatan itu? Inilah diantara persoalan yang akan kita pelajari pada pembahasan ini.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

1.      Dasar Hukum Dilarangannya Minuman Keras

Minuman keras ( miras ) adalah sebutan untuk segala jenis minuman yang memabukkan, yang dalam hukum islam di sebut khamar. Hukumnya mengkonsumsi khamar adalah haram.

Disebut dengan segala jenis minuman, berarti tidak tergantung pada nama atau merek minuman tertentu, juga tidak tergantung pada cara pengelolahnya, apakah cara modern atau tradisional, yang jelas segala minuman yang memabukkan haram hukumnya untuk dikonsumsi.

Terdapat beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahaya khamar dan dengan ayat-ayat itu, para ulama berpendapat bahwa pengharaman khamar terjadi dalam beberapa tahapan, sebelum akhirnya barang ini diharamkan dengan keras. Firman Allah SAW dalam surat Al-Baqarah :219.

Artinya:  mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi, katakanlah, bahwa pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya.

Selain itu firman Allah dengan tegas menyatakan dalam surat Al-Maidah ayat 90-91. Artinya: hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan najis termasuk perbuatan syetan. Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan  kebencian diantara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari mendirikan shalat. Maka berhentilah kamu mengerjakan perbuatan itu.

Para ulama berpendapat bahwa haramnya khamar karena terdapat zat tertentu yang memabukkan. Oleh karena itu, termasuk haram hukumnya mengkonsumsi barang lain yang berbentuk minuman yang mengandung zat memabukkan atau yang membiuskan, baik dengan cara memakan atau menghisapnya. Maka haram hukumnya mengkonsumsi narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya ( NAZA ), seperti ganja, morfin, putau, sabu-sabu, ekstasi dsb.

Beberapa ayat di atas menunjukkan begitu besar akibat buruk dari mengkonsumsi khamar, sehingga Allah melaknat, tidak hanya peminumnya tetapi juga pembuat, peracik, penjual, pendistribusian, dan setiap orang yang turut mengedarkannya. [1]

 

2.      Had minuman keras

a.      Bentuk Hukuman

Had pelanggaran meminum minuman keras adalah dera yang wajib diberlakukan atas atas pelakunya. Para ulama sepakat atas hukuman itu meskipun mereka berbeda dalam soal jumlahnya. Mahzab Hanafi dan Maliki mengatakan 80 kali deraan, sedangkan Imam Syafi’i berpendapat 40 kali dera.[2]

Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah saw:

Artinya: dari Anas as ia berkata, bahwanya Rasulullah pernah melaksanakan dera terhadap seseorang dengan pelepah kumar dan dengan sandal. Kemudian Abu Bakar juga melaksanakan dera 40 kali. Dan semenjak Umar bin Khattab memerintah, kaum muslimin mendekati masa kemakmuran yang subur dan banyak menghasilkan kurma dan anggur. Ketika itu Umar bin Khattab bertanya, bagaimana pendapatmu tentang dera khamar pada masa sekarang ini? Jawab Abdurrahman bin 'Auf, saya kira banyak orang-orang yang menganggap ringan tentang dera khamar itu ( 40 kali ). Sesudah itu Umar melaksanakannya sampai 80 kali.

b.      Syarat Had Miras

Untuk melaksanakan hukuman dera atas peminum khamar ini diisyaratkan dapat terpenuhi beberapa hal, yaitu:

·    Pelaku adalah orang yang berakal sehat dan sudah baligh

·    Perbuatan meminum khamar itu dilakukan tanpa ada unsur paksaan

·    Ada dua orang saksi yang menyatakan kebenaran perbuatan pelaku atau ia mengakui perbuatannya.

3.      Bahaya minuman keras

Sekalipun ada yang mengatakan khamar atau miras ada manfaatnya, namun seperti ditunjukkan Al-qur’an, dosanya atau bahayanya jauh lebih besar. Dengan meminum minuman keras dapat mendatangkan bahaya dan malapetaka bagi pelakunya, bahkan bagi masyarakat luas. Di antara bahayanya adalah:

·      Dapat merusak jaringan saraf otak

Zat adiktif yang terkandung dalam miras, cepat atau lambat akan merusak jaringan saraf otak. Mabuk adalah di antara gejala kerusakan saraf itu, bahkan meski tidak sampai mabuk sekalipun. Akan lebih bahaya lagi jika di ulang-ulang, karena akumulasi dari reaksi zat pemabuk itu akan semakin parah.

·      Cenderung menimbulkan kejahatan yang lain

Tidak sedikit tindak kejahatan bersumberkan pada miras, baik setelah mengkonsumsinya atau justru karena ketagihan mengkonsumsinya belum kesampaian, seperti tindakan perampokan, pemalakan, penjambretan, pemerkosaan dsb. Inilah yang ditunjukkan oleh ayat Alqur’an di atas, sebagai ajakan setan yang selalu ingin menjerumuskannya ( Al Maidah : 91 ).

·      Selalu merasa ketagihan

Seperti halnya narkoba, miras juga mengandung zat-zat adiktif yang dapat menyatu menyatu dengan sel darah manusia. Begitu juga jika diminum lebih dari sekali dan melebihi batas normal, maka zat tersebut akan menyatu dengan darah peminumnya, yang dikemudian hari menjadikannya ketagihan, sehingga setiap hari harus mengkonsumsi minuman tersebut. Sudah tentu hal ini sangat membahayakan.

·      Terancam bahaya kematian

Tidak sedikit orang yang mabuk miras karena dosisnya terlalu berlebihan, kemudian terbakar jantungnya sehingga mat


4.      Hikmah dilarangnya miras

Islam melarang miras dan khamar pada umumnya dengan membawa hikmah yang besar, antara lain:

a.       Sebagai upaya proteksi agar terciptanya manusia atau generasi yang unggul, kuat, dan tidak lemah baik jasmani maupun mental. Jika tidak dilarang mungkin banyak manusia yang mengkonsumsinya, dan sebagai akibatnya mereka hanya menjadi manusia lemah.

b.      Menyadarkan atau mendidik kita bahwa sikap serba instan itu membahayakan. Meminum miras, dengan alasan untuk menenangkan diri dari masalah adalah suatu kebohongan. Sebaliknya, justru akan menimbulkan masalah masalah baru yang akan lebih besar. Misalnya, kesehatannya terganggu.

c.       Sebagai upaya preventif agar tidak muncul kejahatan yang lainnya. Mengingat kerusakan syaraf dapat saja membuat seseorang berlaku nekat.

d.      Membantu manusia agar dapat mempersiapkan masa depannya dengan baik. Karena darah yang mengalir pada tubuhnya merupakan darah yang bersih dan tidak tecampur dengan zat kotor, sehingga dapat menggapai cita-cita tanpa hambata.


5.      Menjauhi minuman keras

Begitu besar bahaya miras, baik di dunia apalagi akhirat, baik bagi diri pelakunya ataupun orang lain, baik jasmani ataupun mentalnya, maka sebagai seorang nuslim kita sudah semestinya berupaya untuk menjauhi miras.

Dalam banyak kasus, orang yang terjerat pada miras adalah karena terpengaruh oleh teman pergaulan. Oleh karena itu, selektif dalam memilih teman, termasuk selektif dalam melakukan kegiatan adalah langkah efektif untuk menjauhi miras.

Pada awalnya, mengkonsumsi miras adalah coba-coba atau hanya sekadar ingin mencicipi bagaimana rasanya, mungkin juga hanya sedikit. Namun kenyataannya dari coba-coba ini kemudian menjadi biasa dan akhirnya menjadi kecanduan yang sulit untuk disembuhkan. Itulah sebannya kenapa pecandu miras dan NAZA lainnya pada umumnya adalah para remaja. Karena pada masa ini, keinginan coba-cobanya tinggi dan bahkan orang dewasa atau orang tua yang pencandu miras biasanya diawali ketika masih remaja.

Tempat-tempat tertentu yang menjual miras atau tempat yang biasa dipakai untuk pesta miras sudah semestinya kita menjauhinya. Karena jika kita coba mendekati tempat itu, bisa jadi mangsa berikutnya adalah kita sendiri[3].

 


BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dalam kesimpulan dari pembahasan di atas sudah jelas bahwa agama sangat penting dalam kehidupan kita sebagai manusia yang bersosial. Karena agama islam adalah agama yang dibawa nabi Muhammad SAW, yang di yakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk  tentang  bagaiamana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang luas. Petunjuk- petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajaran, Alqur’an dan hadits, tampak amat ideal dan agung.

 

B.     SARAN DAN KRITIK

 

Dengan adanya penulisan terhadap makalah ini, mungkin terdapat banyak sekali kekurangannya sehingga pembaca kurang mengerti terhadap makalah ini. Dan dengan demikian, pemakalah sangat megharapkan kritik maupun saran dari pembaca yang sifatnya membangun yang Insya Allah  dengan kritik maupun saran dari pembaca mampu membuat pemakalah untuk meningkatkan lagi pembahasan makalah yang akan datang supaya lebih baik lagi.

                                                         



[1] Muslih, Muhammad, ushul fiqih. Jakarta: 2007. Halm. 41-43

[2]Ibid

[3]Ibid hlm. 44-46



DAFTAR PSTAKA

Muslih, Muhammad. Ilmu Ushul Fiqih, Yudhistira. Jakarta:  2007


Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images